Thursday, Jul 24th

Last update05:27:00 PM GMT

You are here: Artikel Sejarah Sejarah dan Profil Rokan Hilir

Sejarah dan Profil Rokan Hilir

 

Kabupaten Rokan Hilir dengan Ibu Kota "Bagan Siapi-api" terletak disebelah timur Sungai Rokan. Tempat ini merupakan sebuah perkampungan ikan yang berada pada pantai timur pulau Sumatera. Hasil produksinya seperti Ikan Asin dan Udang diekspor keseluruh wilayah yang ada di Indonesia. Kota lain yang berperan penting di kabupaten ini adalah bagan Batu yaitu berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara..

 

 

Sejarah Rokan Hilir di bentuk dari kenegerian, yaitu negeri Kubu, Bangko Dan Tanah Putih. Negeri-negeri tersebut di pimpin oleh Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Kerajaan Siak.

Distrik pertama didirikan Belanda di Tanah Putih pada saat menduduki daerah ini tahun 1890. setelah Bagansiapiapi yang dibuka oleh pemukim-pemukim Cina berkembang pesat, maka Belanda memindahkan Pemerintah Kontrolreulnya ke Kota Bagansiapiapi pada tahun 1901.

Bagansiapiapi semakin berkembang setelah Belanda membangun pelabuhan modern dan terlengkap di kota Bagansiapiapi guna mengimbangin pelabuhan lainnya di Selat Malaka hingga Perang Dunia Pertama usai. Setelah Indonesia merdeka, Rokan Hilir digabungkan ke dalam Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau.

Bekas wilayah kewedanan Bagansiapiapi yang terdiri dari Kecamatan Tanah Putih, Kubu dan Bangka serta Kecamatan Rimba Melintang dan Kecamatan Bagan Sinembah kemudian pada tanggal 4 oktober 1999 ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai kabupaten baru di Propinsi Riau sesuai dengan undang-undang nomor 53 tahun 1999. sebagai ibukota di tetapkan di Bagansiapiapi.

Kabupaten Rokan Hilir memiliki luas wilayah 8.881 , 59 km2 atau 888. 159 hektar, terletak pada koordinat 1014’ sampai 2045’ lintang utara & 100017’ hingga 101021’ Bujur Timur. Batas Kabupaten Rokan Hilir :

• Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Melaka
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Bengkalis
• Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Sumatera Utara
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Dumai

Kabupaten Rokan Hilir dengan Ibu Kota "Bagan Siapi-api" terletak disebelah timur Sungai Rokan. Tempat ini merupakan sebuah perkampungan ikan yang berada pada pantai timur pulau Sumatera. Hasil produksinya seperti Ikan Asin dan Udang diekspor keseluruh wilayah yang ada di Indonesia. Kota lain yang berperan penting di kabupaten ini adalah bagan Batu yaitu berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Beberapa sungai yang mengalir di kabupaten ini berperan penting sebagai sarana transportasi untuk perekonomian rakyat. Sungai Rokan merupakan sungai terpanjang dengan panjang 350 km.

Kabupaten Rokan Hilir memiliki iklim tropis dengan jumlah curah hujan 1.808,5 mm/tahun dan temperatur udaranya berkisar pada 24º-32ºC. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Februari s/d bulan Agustus. Sementara musim hujan terjadi pada bulan September s/d Januari dengan jumlah rata-rata hujan 69 hari, curah hujan tertinggi adalah di Kecamatan Bangko, yaitu 2.710 mm/tahun dan curah hujan terendah di Kecamatan Tanah Putih dengan jumlah 1.443,8 mm/tahun. (BPS, 2006).

Menurut hasil sensus 2006, jumlah populasi Kabupaten Rokan Hilir adalah 421.310 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata adalah 48,33 jiwa/km².

Lebih dari 50% ekonomi kabupaten ini berasal dari sektor pertanian, khususnya dari bagian sektor perkebunan, perikanan, tanaman pangan dan kehutanan. Sektor lain yang memberikan kontribusi besar adalah perdagangan, hotel dan restoran, khususnya pada sektor perdagangan.

Sejak berlakunya otonomi daerah, Kabupaten Rokan Hilir telah mencoba untuk mempersiapkan sarana dan infrastruktur baru seperti:

  • Transportasi Darat (1.828 km mudah diakses dengan kendaraan roda empat)
  • Transportasi Udara (4 pelabuhan ekspor-impor), pada 4 lokasi yaitu; Bagan Siapi-api, Panipahan, Tanjung Lumba-lumba dan Sinaboi
  • Listrik - 26 unit pembangkit listrik tenaga diesel dengan total kapasitas 29.372.616 kWH
  • Telekomunikasi (telepon rumah, telepon genggam dan internet)
  • Fasilitas Kesehatan (3 Rumah Sakit, 10 Puskesmas, dan 58 Puskesmas Pembantu)
  • Air bersih, dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM) dengan jumlah volume 9.840 m³
  • Fasilitas pendukung; Perbankan (Bank Nasional dan Bank Lokal), Akomodasi (Hotel dan Fasilitas Pemondokan)

Dewasa ini telah terjadi berbagai rupa perubahan pada wilayah Kabupaten Rokan Hilir khususnya Bagansiapi-api yaitu perubahan mencakup 3 hal yang meliputi modernisasi, komersialisasi dan globalisasi; Namun ketiga hal ini bagai magnet yang memberi janji-janji sungguh menggiurkan, namun perencana dan pemikir yang kritis juga cukup “khawatir” akan perangkap-perangkap yang menghadangnya. Pada abad ke-19 Kota Bagansiapi-api sebagai kota komersial diperairan selat malaka yang tercatat dalam sejarah Perikanan Internasional berhasil menduduki penghasil ikan Nomor Dua setelah Norwegia dan Peru, dengan cepat terbawa arus komersialisasi dari perekonomian tradisional yang mendasarkan system barter, kini masyarakat telah mengenal monetisasi (ekonomi pasar) yang pada jejak di masa lalu dikenal dengan zaman dollar, dimana mata uang asing dollar Malaysia dan Singapura pernah eksis diperlakukan sebagai alat tukar yang resmi menjadi satu system wilayah ekonomi, dimana rakyat Bagansiapi-api dan Malaysia-Singapura saling berhubungan perdagangan. Orang Bagan menjual ikan dan hasil-hasil pertanian, sedangkan orang Malaysia dan Singapura menjual bahan pokok penduduk, seperti radio, tape recorder, dan lain-lain barang-barang symbol kemajuan (modernisasi). Namun sejak diberlakukan kebijaksanaan moneter 15 Oktober 1963 semua mata uang Dollar Malaysia dan Singapura ditarik dan diganti dengan rupiah Kepulauan Riau.

Waktu terus berjalan memasuki abad-21, kehidupan social ekonomi wilayah dan penduduk Bagan telah bergeser menjadi 2 strata perekonomian yaitu strata ekonomi masyarakat ekonomi modern meliputi industry minyak, kehutanan dan perkebunan sawit dan strata ekonomi masyarakat desa tradisional meliputi komoditi tradisional, karet dan perikanan serta sarang burung wallet.

Kebijaksanaan pembangunan mulai mempunyai gaung yang mendorong meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rokan Hilir khususnya Bagansiapi-api, singkatnya setelah runtuhnya rezim orde baru pada pertengahan 1998 memberi momentum baru. Perubahan pun drastis dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Otonomi Daerah. Wacana otonomi menjadi salah satu motor pemekaran daerah, sehingga dalam era otonomi daerah pada essensinya didasari niat luhur menyejahterakan orang (Rakyat) banyak.

Propinsi Riau yang pada mulanya terdiri dari 5 Kabupaten, 2 Kotamadya dan 2 Kota Administrasi. Ke-5 Kabupaten itu meliputi Kampar, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Bengkalis dan Kepulauan Riau sendiri. Kemudian kotamadya Pekanbaru dan Batam serta Kota Administrasi Tanjung Pinang dan Dumai. Kini melalui perjuangan panjang yang cukup melelahkan akhirnya berhasil dimekarkan menjadi 15 Kabupaten/Kota. Termasuk Kabupaten Rokan Hilir buah pemekaran dari Kabupaten Bengkalis.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1999, yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 181 Tahun 1999, Kebupaten Rokan Hilir dinyatakan terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999 sebagai Kabupaten Baru dengan pusat pemerintahan di Bagansiapi-api.

Kabupaten Rokan Hilir terletak pada bagian pesisir timur Sumatera dengan luas wilayah ± 888,59 km, yang terdiri dari daratan, pulau-pulau dan lautan. Kebupaten Rokan Hilir pada tahun 2006 membawahi tiga belas kecamatan, meliputi Kecamatan Bangko, Kecamatan Kubu, Kecamatan Tanah Putih, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kecamatan Rimba Melintang, Kecamatan Bagan Sinembah, Kecamatan Pujud, Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan, Kecamatan Sinaboi, Kecamatan Simpang Kanan, Kecamatan Bangko Pusako, Kecamatan Batu Hampar, Kecamatan Rantau Kopar. Pada saat ini sebagian besar masyarakat telah menikmati buah dari pemekaran itu, dan dari waktu ke waktu Pemerintah Kebupaten Rokan Hilir terus bekerja keras mendorong seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Rokan Hilir untuk maju bersama-sama membangun dan mengembangkan Rokan Hilir ;

Keberhasilan pembangunan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir tercermin dengan bangunan Kantor Bupati Rokan Hilir dan Kantor DPRD Rokan Hilir, Taman Kota serta Masjid Al-Ikhlas yang megah merupakan kabanggaan masyarakat Bagansiapi-api, didukung dengan infrastruktur dan akses ekonomi dengan Propinsi Riau dan Malaysia mulai berkembang dan telah terjadi perubahan yang berorientasi pada politik pembangunan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi tercermin dengan munculnya bangunan-bangunan bertingkat dan tertutup sebagai sarang burung wallet, membawa berkah baru bisnis sarang burung wallet di kota Bagansiapi-api dan beberapa kota di Rokan Hilir semakin marak. Perdagangan/Pengusaha wallet baik warga setempat maupun pemodal dari luar daerah membangun gedung tinggi bertingkat sebagai rumah sarang burung wallet, termasuk berdirinya beberapa hotel seperti Hotel Lion, Hotel Kades Bagan, Hotel Bagan, Hotel Mahera, Hotel Horison, Hotel Indah, Hotel Paradise dan Wisma-wisma serta penginapan tumbuh berkembang sebagai barometer pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir secara sadar dan eksplisit berkomitmen memberi perhatian penuh pada pemgembangan perekonomian Rokan Hilir khususnya masyarakat Bagansiapi-api. Bahkan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir akan melakukan pembangunan Museum Bahari, Restorasi dan Renovasi Rumah Kapiten Tua bekas peninggalan Belanda, saat ini rumah tersebut ditempati oleh pewaris Kapiten ; dan membuka peluang investasi guna mendorong pertumbuhan perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan visi Rokan Hilir.

 

Kondisi Nelayan Dan Pendidikan

Pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan Pembangunan dalam Pendidikan. Bilamana hal ini tidak sejalan maka akan terjadi ketimpangan antara laju pertumbuhan ekonomi dengan keadaan pendidikan yang ada. Penduduk Bagansiapi-api terutama hidup sebagai nelayan, sebagian besar penduduk berpendidikan rendah yakni hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat sekolah dasar, sebagian lagi penduduk sebagai pedagang atau buruh atau pegawai negeri atau petani.

Sisi-sisi lain permasalahan yang dihadapi nelayan, pedagang, buruh dan petani rata-rata tingkat pendidikan mereka pada umumnya rendah dan ketrampilannya terbatas, sehingga mereka tidak mempunyai alternatif pekerjaan lain selain sektor perikanan, perdagangan, pertanian dan menjadi buruh ; Apalagi semakin hari kehidupan ekonomi khususnya mayoritas nelayan dikalahkan oleh nelayan besar yang menggunakan teknologi modern dengan meningkatkan efesiensi penggunaan teknologi modern mengakibatkan penurunan produksi bagi nelayan kecil ; dari waktu ke waktu semakin bertambahnya armada penangkapan yang beroperasi diperairan, keadaan ini memberikan indikasi bahwa kehidupan nelayan semakin keras persaingannya, sehingga memiliki potensi terlemah. Kondisi ekonomi nelayan diperparah lagi dengan maraknya pencurian ikan yang dilakukan nelayan luar, kenaikan BBM tahun lalu sehingga biaya yang dikeluarkan semakin besar yang meliputi pembelian alat-alat dan biaya operasional ; Keadaan ekonomi nelayan yang serba susah menyebabkan terjadinya perpindahan para nelayan ke daerah baru, membuat Bagansiapi-api menjadi kurang dikenal lagi. Perpindahan para nelayan tersebut terjadi karena faktor kompetisi dan juga faktor alami yaitu perairan di sekitar Bagansiapi-api mengalami pendangkalan dan semakin sempit akibat lumpur yang dibawa oleh air sungai Rokan banyak tertahan dan menjadi pendangkalan secara alami, sehingga membawa dampak domino terhadap kondisi ekonomi pedagang, nelayan, buruh dan petani. Kini pilar perekonomian perikanan di ambang kehancuran dan saat ini penduduk Bagansiapi-api terus menerus menyusut :

Permasalahan yang muncul dan dihadapi penduduk Bagansiapi-api saat ini sangat kompleks antara lain ;

Pertama : kondisi ekonomi nelayan, pedagang, buruh dan petani yang tidak memungkinkan untuk menyekolahkan anak mereka, walaupun sebagian dari mereka tumbuh kesadaran untuk menyekolahkan anaknya, namun selalu terdapat benturan antara pemenuhan kebutuhan primer, terutama pangan, dengan keinginan untuk memperoleh pendidikan ;

Kedua : sebagian mereka sudah merasa cukup puas apabila sudah bisa membaca dan menulis, sehingga rata-rata tingkat pendidikan mereka hanya tamat sekolah dasar dan ada yang tidak tamat sekolah dasar. Pendidikan bagi mereka bukan suatu hal yang harus diperjuangkan, karena lapangan pekerjaan yang tersedia hanya perikanan atau Bang Liau atau pembuatan kapal kayu atau pedagang, buruh dan petani yang tidak mensyaratkan pendidikan tertentu, terutama bagi anak-anaknya yang harus membantu orang tuanya karena penghasilan orang tuanya semakin merosot, sehingga mau tidak mau mereka harus berusaha di sektor perikanan yang semakin terpuruk, sebagai pedagang, buruh dan petani dengan cucuran keringat mereka sendiri untuk bertahan hidup.

Ketiga : mereka tidak yakin bahwa pendidikan yang lebih tinggi akan menjamin pekerjaan yang lebih baik bila dibandingkan dengan sektor perikanan, pedagang, buruh dan petani.

Keempat : pada umumnya sarana pendidikan yang tersedia dengan fasilitas gedung serta peralatan cukup memadai tetapi kurang dalam dukungan guru yang professional.

Dari berbagai fenomena tersebut di atas, ternyata cukup mendapat perhatian dan keberpihakan Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir yang sekuat tenaga telah berusaha menjawab fenomena-fenomena yang dihadapi, antara lain dengan bantuan operasional sekolah (BOS) guna memperbaiki generasi selanjutnya dalam bidang Pendidikan. Usaha Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir antara lain telah membangun beberapa tambahan gedung sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai dengan tingkat sekolah menengah pertama dan umum, ditambah dengan pemberian bantuan bea siswa kepada sejumlah sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan umum di seluruh wilayah Rokan Hilir dan setiap tahun anggaran mencairkan dana anggaran bantuan operasional sekolah meningkat, telah dimanfaatkan dengan maksimal untuk pengembangan pendidikan lebih baik di Bagansiapi-api.

Perlu diinformasikan bahwa kini di tengah gemuruh otonomi daerah, sejumlah anggaran daerah yang diperoleh dari uang rakyat melalui pembayaran pajak, pungutan retribusi dan sumber-sumber kekayaan alam dari perut bumi pertiwi menjadi sandaran Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir yang dialokasikan setiap tahun anggaran untuk pelayanan public seperti sector pendidikan, kesehatan dan infrastruktur/sarana umum kota secara lebih baik, dan di masa depan diharapkan memberi dan menjawab impian rakyat akan kesejahteraan dan ketentraman hidup.

Pariwisata Dan Kebudayaan

Dari sisi Pariwisata dan Kebudayaan Rokan Hilir khususnya Bagansiapi-api adalah wilayah wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara maupun lokal. Selain pemandangan alam di Pulau jemur yang berada kurang lebih 45 mil dari Bagansiapi-api ; Danau Napangga terletak di Kecamatan Tanah Putih kurang lebih 70 km dari Ujung Tanjung ; Pulau Tilan berada 20 km dari Ujung Tanjung - Tanah Putih atau melalui Dumai ; Bon. Sungai Rokan merupakan gelombang yang indah dengan menyatunya gelombang laut ; Desa Rantau Bais yang posisinya berhadapan dengan Pulau Tilan dibatasi oleh sungai Rokan. Desa Bantayan terkenal dengan Batu Belah Batu Betangkup dikenal sebagai mitos atau Folklor atau mengandung legenda tentang seorang ibu yang kecewa melihat kedurhakaan anaknya sampai sang ibu bunuh diri dengan membiarkn dirinya ditelan batu belah itu ; kemudian Pulau Jemur terletak kurang lebih 45 mil dari Bagansiapi-api, Pulau ini dikenal sebagai salah satu gugusan Pulau yang sangat kaya dengan hasil telur penyu dan sarang burung wallet ; ditengarai mengandung deposit minyak bumi yang besar. Disamping potensi wisata bahari yang siap dikembangkan Kabupaten Rokan Hilir.

Dari sisi Budaya, tidak sedikit jumlahnya tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang masih eksis dan berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa Bagansiapi-api, antara lain :

a. Pada Bulan Tiga-Imlek warga Tionghoa melaksanakan sembahyang Kubur/Ziarah (Cheng Beng) yakni suatu ritual kumpul-kumpul keluarga besar dalam sembahyang menghormati leluhur di areal pemakaman.

b. Pada Bulan Lima-Imlek, tepat pada tanggal 6 bulan lima Imlek, upacara Go Gwe Cap Lak (upacara ritual bakar tongkang) sebagai ungkapan syukur warga Tionghoa Bagansiapi-api terhadap Dewa Ki Houng Ya dan Tai sun Ong Ya. Tanggal 17 bulan lima Imlek bertepatan dengan kelahiran Tai Sun Ong Ya diadakan upacara bakar tongkang. Masyarakat Tionghoa Bagansiapi-api sangat percaya dengan kedua Dewa tersebut yang dirasakan oleh segenap warga Tionghoa yang memakmurkan dan mengangkat berbagai potensi alam Bagansiapi-api seperti perikanan dan pertanian.

Oleh sebab itu, setiap bulan tiga dan bulan lima Imlek selalu warga Tionghoa Bagansiapi-api dari berbagai daerah dan berbagai penjuru dunia pulang alias mudik ke Bagansiapi-api. Boleh dikatakan wujud panggilan moral dan ritual menjadi tradisi budaya dalam merayakan rasa syukur terhadap keberhasilan selama perantauan dengan upacara ritual tersebut sudah menjadi bagian dari budaya khas Bagansiapi-api. Di masa depan menjadi potensi untuk pariwisata dan mengundang tamu mancanegara untuk investasi atau investor dapat melihat peluang bisnis dengan menanamkan modalnya di Bagansiapi-api. Pemerintah Rokan Hilir juga telah memberi promosi, jaminan hukum, keamanan termasuk isentif penyediaan lahan, kemudahan fasilitas pendidikan dan berbagai isentif berupa fasilitas lebih baik lainnya. Pemerintah Rokan Hilir telah membuka peluang investasi di Kabupaten Rokan Hilir ; antara lain peluang investasi pembangunan pelabuhan laut di Bagansiapi-api, Panipahan dan Sinaboi ; pembangunan Pulau Jemur sebagai Pusat

Wisata Bahari ; pembangunan jaringan Kereta Api Panipahan – Labuhan Batu di Bagansiapi-api Dumai : pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air ; pembangunan Cottage dan Villa, Hotel, Restoran dan Rumah Makan serta tempat Hiburan, Pertunjukan dan Atraksi ; Penangkalan Penyu Hijau ; Pengembangan Budidaya Perikanan ; Tambak udang dan Ikan Tawar. Pabrik pengolahan CPO Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit, Pabrik Pengolahan Karet dan lain-lain yang memberi manfaat bagi terciptanya lapangan kerja, terutama dalam proses pembangunan yang tengah berlangsung.

Akhirnya Bagansiapi-api dalam menghadapi tantangan baru di tengah kancah perubahan ekonomi global yang tidak bisa dihindari, mau tidak mau harus memilih untuk menolak perubahan itu serta berpotensi tersingkir olehnya ; atau bisa memilih untuk bekerja sama dengannya, menyesuaikan diri, memanfaatkannya dan merangkul perubahan global menjadi sebuah peluang dan kekuatan baru untuk pertumbuhan dan pengalaman baru.

 

PUSTAKA / NARA SUMBER :

· Majalah Visit Bagansiapi-api, Penerbit Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir berkerjasama dengan Badan Koordinasi Pengembangan dan Promosi Pariwisata Riau, Tahun 2008.

· Rokan Hilir Bandar Riwayah, Tanpa Penerbit, Tahun 2006.

· Riau Menatap Masa Depan oleh Mubyarto dkk, Penerbit Aditya Media, Yogyakarta, April 1993.

· www.sungaikuantan.com/2009/.../sejarah-singkat-rokan-hilir.html

· http://www.riau.go.id/index.php?bahasa=&mod=halutama&link=rohil

 

Rokan Hilir : Pertualangan Yang Eksotis

Rokan Hilir. Sebuah nama yang eksotik, seeksotik p...

Read more...
Peak Performance in Life

Peak Performance in Life

-->

Read more...
Partai Demokrat Sulsel Siap Usung Yusuf Kalla Jadi Presiden

Partai Demokrat Sulsel Siap Usung Yusuf Kalla Jadi Presiden

Perfomance Ming Thian Performance di Reuni Akhbar IAPW Performance Ritual Bakar Tongkang 2011 Bagansiapiapi Bare-Knuckle Brawling : KICK ASS ! | 2009 Bernard the bear:The desert island
Sample image Sample image Sample image Sample image Sample image Sample image

Optik Jagorawi

 

Suka Maju Multivalas

Aulia Cosmetic

FLORIST IAPW

 

Ray White